Critical Thinking is The New Gold

Common sense itu ga segitu common nya

Ingat ketika dulu kita belajar kalau Borobudur itu salah satu keajaiban dunia, trus ternyata itu bukan salah satu dari seven wonders of the world tapi Unesco World Heritage?

Iya, salah mereka (kurikulum, pengajar) tuh ngajarinnya ga bener.

Wrong. Salah kita yang ga ask atau cari tahu faktanya, dan easily menelan apapun informasi yang diberikan ke kita. Dan ini why critical thinking ini salah satu pillar terpenting dari remote work: Karena kemampuan berpikir kritis itu yang membuat someone jadi mahal di market.


Welcome to the economy of critical thinking

Let’s prove it langsung pakai contoh yang simple banget: tukang rumah. Let’s say kamu renov rumah (atau rumah bos kamu gitu) dan kamu perlu tukang buat bikin ruangan baru.

👨‍🔧: Ruangannya bikin ukuran berapa pak?

👴: 3×3 meter ya.

Trus kamu pergi dan mulai kerja tuh tukangnya pagi siang malem selama seminggu. Pas kamu balik lagi, jadilah ruangannya sesuai yang kamu minta..tapi terus kamu bengong soalnya ga ada pintunya.

“Kan bapak bilangnya bikin ruangan? Ini kan saya bikin sesuai yang diminta” kata dia. Kamu menahan diri ga mengumpat atau bilang “ya pak pikir dong gimana saya masuk ruangannya?”

Nah sekarang coba kamu jawab: pilih tukang yang ga mikir dan murah, atau yang bisa mikir kritis (tapi mahal)?

Betul, ada pilihan lainnya: tukang nya bisa murah, asal ada orang yang bisa mikirnya. Mau itu kontraktor atau kamu sendiri yang ngasih instruksi detail (dalam hal ini kamu yang mikir).

Remote work itu exactly kaya gitu sekarang. Remote work yang hanya mengandalkan instruksi (dan bukan berpikir kritis) itu remote worker yang bargain power nya quantity (baca: seberapa banyak hal yang bisa kamu lakukan), dan bukan quality. Dan ini applicable ke semua area: mau itu virtual assistant, coding, business, marketing, everything.

Kemampuan berpikir kritis = skill mahal

Teknologi dan akses global menurunkan harga quantity, dan menaikan harga quality

Quantity itu soal banyak, sedangkan quality itu soal detail. Dan di banyak hal, kedua prinsip ini berlawanan (at least buat kita yang bukan terlahir sultan). Bikin website itu murah banget sekarang. Jasa menulis artikel murah dimana-mana, dan jasa buat bikin logo murah itu menjamur.

Tapi: Someone yang bisa bikin website yang kohesif sama tulisannya dan logonya, supaya customer tertarik ketika visit website nya itu jadi mahal banget. Dan untuk melakukan itu, someone perlu berpikir kritis ketika handle remote client (example nya dibawah)

Ini hukum ekonomi. Makin banyak suatu hal, makin turun nilainya. Sampe sini, udah get belom why kemampuan berpikir itu mahal?

Let me show you how we do it in RPS supaya ngerti