Common sense itu ga segitu common nya
Common sense itu depends sama environment, toh namanya common sense. Question utama nya: Apa kita dididik di lingkungan yang ngajarin / support critical thinking, atau justru terbalik ada di lingkungan yang benar dan salahnya disusun sesuai pesanan nilai yang dipegang oleh mayoritas?
Loh emang mayoritas salah? Kan mayoritas (jadi pasti betul)
👆🏼Ini contoh why critical thinking ini salah satu pillar terpenting dari remote work: Karena kemampuan berpikir kritis itu yang membuat someone jadi mahal di market, dan remote world itu menghargai someone yang bisa berpikir kritis (baca: ga cuma iya iya aja)
Welcome to the economy of critical thinking
Let’s prove it langsung pakai contoh yang simple banget: tukang rumah. Let’s say kamu renov rumah (atau rumah bos kamu gitu) dan kamu perlu tukang buat bikin ruangan baru.
👨🔧: Ruangannya bikin ukuran berapa pak?
👴: 3×3 meter ya.
Trus kamu pergi dan mulai kerja tuh tukangnya pagi siang malem selama seminggu. Pas kamu balik lagi, jadilah ruangannya sesuai yang kamu minta..tapi terus kamu bengong soalnya ga ada pintunya.
“Kan bapak bilangnya bikin ruangan? Ini kan saya bikin sesuai yang diminta” kata dia. Kamu menahan diri ga mengumpat atau bilang “ya pak pikir dong gimana saya masuk ruangannya?”
Nah sekarang coba kamu jawab: pilih tukang yang ga mikir dan murah, atau yang bisa mikir kritis (tapi mahal)?
Betul, ada pilihan lainnya: tukang nya bisa murah, asal ada orang yang bisa mikirnya. Mau itu kontraktor atau kamu sendiri yang ngasih instruksi detail (dalam hal ini kamu yang mikir).
Remote work itu exactly kaya gitu sekarang. Remote work yang hanya mengandalkan instruksi (dan bukan berpikir kritis) itu remote worker yang bargain power nya quantity (baca: seberapa banyak hal yang bisa kamu lakukan), dan bukan quality. Dan ini applicable ke semua area: mau itu virtual assistant, coding, business, marketing, everything.
Kemampuan berpikir kritis = skill mahal
Teknologi dan akses global menurunkan harga quantity, dan menaikan harga quality
Quantity itu soal banyak, sedangkan quality itu soal detail. Dan di banyak hal, kedua prinsip ini berlawanan (at least buat kita yang bukan terlahir sultan). Bikin website itu murah banget sekarang. Jasa menulis artikel murah dimana-mana, dan jasa buat bikin logo murah itu menjamur.
Tapi: Someone yang bisa bikin website yang kohesif sama tulisannya dan logonya, supaya customer tertarik ketika visit website nya itu jadi mahal banget. Dan untuk melakukan itu, someone perlu berpikir kritis ketika handle remote client (example nya dibawah)
Ini hukum ekonomi. Makin banyak suatu hal, makin turun nilainya. Sampe sini, udah get belom why kemampuan berpikir itu mahal?
Let me show you an example, kita ambil contoh kerja remote yang paling berjamur dimana2: personal virtual assistant. Consider situasi ini:
Bapack2 eksmud umur 30-40, belum merit, nyari personal virtual assistant buat help dia manage company nya di Singapore dan di Indonesia. Dia perlu someone yang bisa handle schedule dia, bantu manage chores di rumah dan di kantor, atau even personal chores.
Yang melamar? Pasti banyak banget. Handle schedule mudah kan, ga susah. Set di calendar, ingetin dia, udah. Urus chores juga tinggal hubungin jasa bersih2 rumah, kantor, etc. Kamu melamar juga beserta puluhan orang lainnya, tapi trus ya ga ada kabar.
Sekarang, let’s see how kita implement kemampuan berpikir kritis, di case ini. Kita udah tau kalau problem bapacknya itu dia abis waktu (dan possibly high stress). Kamu tau juga ada puluhan orang lain mencoba melamar (kerja). Jadi at this point you need to raise your value, your quality. How? By understanding him. Layaknya kamu bisa jadi detektif mantan km, bisa dong km juga jadi detektif buat bapack ini?
- Dia sukanya komunikasi kaya gimana? Direct? Soft spoken? VoC?
- Company yang dia handle company apa? Trading? Industrial? Services? Apa yang diperlukan di company itu mostly? Stress point nya apa?
- Understand deeper lifestyle dan character dia. Extrovert / introvert? Bapack ini smart atau lucky atau pekerja keras yang start dari nol?
Of course untuk bisa melakukan ini, kamu perlu bisa komunikasi dan punya sustained focus. Once kamu tau itu, kamu bisa use informasinya buat personalized your service buat dia (atau, decide ga melamar krn beda value / character dengan kamu). Hal ini ga membuat kamu pasti diterima, tapi at least menaikan probabilitas kamu diterima.
Gimana caranya bisa berpikir kritis?
Sebetulnya, kemampuan berpikir kritis itu terkait juga sama emotional maturity kita, especially kemampuan untuk tidak reaktif, tapi responsif. Let’s dive apa maksudnya ini.
- Reaktif : impulsif, emosional, dan fokus pada situasi
- Responsif: penuh kesadaran, logis, dan fokus pada solusi
First step untuk responsif terhadap apapun adalah kemampuan untuk stop and ask. Ketika kita menghadapi suatu problem atau menerima informasi, kita perlu mengolah dulu informasi tersebut:
- Apa informasi nya sudah lengkap? Perlu ada yang kita tanya lagi kah supaya kita mengerti cukup banyak sebelum kita do anything?
- Jika kita melakukan exactly apa yang diminta, apakah kita akan menghilangkan masalahnya secara permanen, atau hanya temporer?
Next, kita mencari apa problem sebetulnya (dan bukan apa problem yang diasumsikan). Untuk proses ini, perlu kemampuan berkomunikasi dan menggali, apa sebetulnya root problemnya? Misal di contoh diatas, maybe problem nya bukan schedule yang terlalu hectic, tapi bapack itu handle too much, yang seharusnya di delegasi ke team dia.
Lastly, pikirkan cara untuk solve root cause nya, bukan problemnya. Bedanya apa? Kita pake contoh lain ya: Let’s say teman kamu suka ngantuk pagi2, jadi dia minum kopi yang banyak seharian. Malemnya dia gabisa tidur (krn kopi tadi) trus dia minum obat tidur.
Kopi itu solve problemnya, tapi bukan root cause nya. Kamu decide buat ngobrol sama dia buat tau pola hidupnya dan barulah kamu tau kalo dia suka scroll sosmed 2 jam sebelum tidur dan itu mengganggu pola tidur dia (blue light). Kamu help dia buat change behavior itu (misalnya: sejam sebelum tidur ga scroll sosmed) dan dia bisa bangun pagi segar. Kamu solve root cause nya dan problem nya hilang.
Kapan perlu berpikir kritis?
Pengennya sih bilang kapanpun ya, tapi ga semua hal perlu dipikir kritis. Banyak hal di dunia ini gaperlu dipikir, cuma perlu dinikmati aja. Tapi ada beberapa hal yang bisa kita jadikan acuan kapan perlu berpikir kritis.
Ketika ada problem yang berulang
Problem yang berulang means ada root cause yang belum solve, makanya problem nya berulang. Sebelum root cause nya di solve, ya problemnya bakal terus ada (dan berulang, dan possibly makin parah)
Ketika ada informasi yang wagu
Wagu itu ga jelas, samar-samar, bermakna ganda. Misal ketika kita mau beli barang trus pas tanya harganya berapa, dijawab: ya segitulah. Segitulah tuh segimana?
Ketika taruhannya besar
Misalnya bos kamu nitip beliin makanan yang enak buat istri/suami dia krn itu ulangtaun pernikahan mereka. Definitely harus komunikasi extra, berpikir kritis karena taruhannya karir kamu (secara ga langsung)
Ketika saingan kamu itu quantity
Inget contoh personal virtual assistant diatas? Kamu bersaing sama puluhan orang lainnya (quantity). Disini kamu perlu bersaing secara quality.
Mini Exercise
Teori doang ga cukup, jadi ada beberapa exercise yang bisa dicoba buat mengasah critical thinking kita. Let me give you two examples yang kamu bisa think of, buat mengasah kemampuan berpikir kritis kamu:
- Kamu berkali-kali kerja dan selalu dibayar di bawah rata-rata. Menurut kamu, kenapa itu bisa terjadi?
- Komunikasi kamu bagus, skill kamu oke, and yet kamu ga pede ketika melamar kerja. Apa root cause nya?
- Pasangan / keluarga kamu sering banget lupa buang sampah sampai bau sampahnya kemana2. Apa yang akan kamu lakukan? Why?
Sama seperti hal lainnya, critical thinking itu something yang dilatih over time, perlu kemampuan (dan keberanian) komunikasi yang baik, dan kemampuan buat mengoreksi diri sendiri. Nanti kami sediakan juga guide untuk komunikasi yang baik. Next kita bahas dulu soal kemampuan melihat realita berdasarkan data, bukan berdasarkan feeling.
