World ini terus berubah. Masa kamu ga berubah?
Generasi dulu bisa kerja biasa, nabung, trus beli rumah lengkap sama mobil motor trus punya dana pensiunan yang oke. Sekarang? Lupakan Bambang, udah bagus kamu masih stay sane dan ga gila, ya gak?
World ini constantly change, constantly progressing. Dan kedepannya akan terus gitu, jadi kalau kita mau survive, kita perlu satu skill penting: adaptasi. Ini bukan something yang mudah, terutama kalau kalian terbiasa sama something yang safe dan pasti. Tapi kita sama-sama tau, ga pernah ada something yang pasti di world ini kan? ๐
Artikel ini part keempat dari RPS Remote Work Guide 2026 sebagai kontribusi kami untuk teman-teman yang ingin bekerja high quality remote work. Kalau artikel ini berguna buat kamu, do share to others!
Survival of the fittest edisi realita
Siapa paling kuat, dia yang menang. Bener ga? Salaaaah.
Kalau memang orang yang paling kuat yang menang di life ini, maka orang yang bekerja paling keras itu udah achieve financial freedom. However kita ingin hal itu terjadi, realita nya beda jauh.
Mereka yang paling fit, adalah mereka yang survive. Dan fit disini itu bukan soal fisik, bukan soal yang paling pintar, atau yang paling punya banyak resources di life. Semua itu matters, tapi bukan kunci utama melainkan kemampuan adaptasi ke keadaan / environment spesifik. Dan ini berlaku buat every each aspect of life mau itu financial, relationship, life goal, dan dalam case scope yang kita bahas: remote work.
Let’s dive deep why kemampuan adaptasi itu kemampuan terpenting.
Change is the new normal
World ini constantly change dan progressing, dan ini bukan teori konspirasi. Change dan progress ini karena memang semua orang mendukung itu dan ingin itu. Kita semua ingin sesuatu yang lebih cepat, lebih bagus, lebih murah. Mau itu dari sisi transportasi, makanan, atau entertainment. Dan itu yang jadi drive untuk perubahan terutama untuk company, karena change/improvement itu artinya more profit.
Masalahnya di sisi lain kita sebagai individu terbiasa juga dengan sesuatu yang stabil dan ga memerlukan banyak effort. Kalau adaptasi / berubah itu mudah, udah dilakuin semua orang.
Kemampuan adaptasi itu bukan kemampuan untuk mengubah perilaku saja, karena perubahan perilaku yang ga didasarin sama perubahan mindset itu sifatnya temporary. In another word: ga sustainable, tar abis berapa lama balik lagi ke kebiasaan lama.
As someone yang mau kerja remote, penting buat understand kalau prioritas utama dari any company itu generate profit dengan pengeluaran sekecil mungkin. Understanding dan accepting ini itu landasan utama dari mindset kita untuk adaptasi sesuai dengan kondisi.
Tech, Economy, Geopolitical, and Culture
Ketika tadi kami bilang “sesuai dengan kondisi”, yang kami maksud itu ada empat: teknologi, ekonomi, geopolitik, dan kultur. Kita coba rangkum sesingkat mungkin.
Teknologi
Improvement teknologi itu bukan something yang bisa kita anggap enteng. Mau itu AI (kecerdasan buatan), mau itu automation, atau advancement lain yang terus dibuat. Setiap dari advancement ini berkontribusi untuk optimasi company. Ini mendorong company untuk lebih efisien (baca: lebih perlu sedikit orang high quality).
Ekonomi
Bukan cuma kebutuhan hidup sekunder yang naik harganya, tapi kebutuhan primer juga. Kenaikan harga (meski kecil) di kebutuhan primer bisa berkali lipat jadi domino effect ke hal lainnya. Pendapatan ga naik banyak, tapi kebutuhan pelan-pelan meningkat.
Geopolitik
Situasi geopolitik ga ngaruh kan sama kita? Salaaah. Ngaruh soalnya kita kan bukan Korea Utara ya. Ekonomi maupun situasi politik negara lain bisa berpengaruh sama negara kita, dan ujungnya pengaruh sama kita. Contoh: harga barang lebih mahal soalnya import jadi mahal gegara perang.
Kultur
Loh apa hubungannya sama kultur? Karena kalian yang mau remote work itu kompetisi dengan remote worker lainnya. Kalau mindset utama dari kebanyakan remote work itu harga dan bukan value, maka itu yang dilihat oleh company luar yang provide remote work akan sama juga. Artinya itu membuat high-quality remote worker lebih susah dapat kerja karena tersaturasi dengan low-quality, cheap remote worker.
Summary nya: AI mulai bisa menggantikan banyak kerjaan, harga kebutuhan meningkat karena ekonomi dan geopolitik, dan kita bersaing sama orang yang kompetisi di harga (bukan kualitas).
Improvise, Adapt, Overcome
Ini kalo di Indonesia-in, jadinya tuh prinsip ATM: Amati, Tiru, Modifikasi. Sedikit beda tapi ya tipis-tipis sama sih ya intinya. Bisa dibilang prinsip ATM ini mencakup adapt dan improvise.
Kalo tadi kita bahas kenapa adaptasi itu penting, kita sekarang masuk ke cara jadi lebih adaptable.

Pick your poison
Sebagai kebanyakan manusia, kita lebih menghindari pain daripada mengejar reward. Toh banyak orang ga melakukan hal buruk karena takut masuk neraka kan? ๐
Jadi step pertama yang paling realistik itu choose your pain. Coba kamu cari satu hal yang paling menakutkan kalau kamu ga adaptasi / berubah jadi lebih baik sesuai dengan kondisi kamu. Jangan pilih yang kamu bisa hadapi, tapi justru yang kamu gatau kamu bisa hadapi atau ga.
๐โโ๏ธ๐โโ๏ธ: Maksudnya gimana?
Misal nih ya, kamu ga adaptasi / berubah trus jadi ga dapet kerja trus susah makan. Karena kamu ga takut susah makan, jadi ya gaperlu amat juga berubah. Ini contoh pain yang bisa kamu hadapi.
Cari deepest fear kamu dan jadiin itu landasan untuk kamu berubah. Misal, kamu jadi gabisa nonton konser yang seumur hidup cuma sekali. Atau gabisa kasi makan someone yang kamu sayang. Atau mungkin lebih lagi: kamu terpaksa kerja 9-5 yang kamu benci banget dan hidup kamu kosong.
There is no comfort zone of skill
Ga ada yang namanya comfort zone tuh. Ga pernah ada, dan ga akan ada. Sama kaya mimpi buat jadi the next Mark Zuckerberg yang dijual banyak orang, ga ada yang namanya comfort zone kecuali kamu anak sultan ato punya koneksi ordal. Tapi then kalo kamu udah punya itu, kamu ga baca ini juga ya.
Ada yang namanya sunk cost fallacy. Singkatnya, itu artinya memegang something (skill, jabatan masa lalu, ego, relationship) just because karena kita udah spend time dan effort disitu. Udah kuliah 4-5 taun buat belajar, sayang skill nya kalo ga dipake (meski market nya udah berbeda).
Skill yang kita punya sekarang, itu belum tentu akan terus diperlukan didepan. Jadi ya memang cara satu-satunya itu terus belajar.
๐โโ๏ธ๐โโ๏ธ: Cape banget dong harus belajar terus?
Nah ini, kalo belajarnya something yang ga sejalan sama diri kamu, ya memang susah. Tar kita bahas di next article soal ini, supaya kita bisa belajar yang meaningful.
Leverage your environment
Pernah denger the power of kepepet? Yap itu maksud dari leverage your environment. Dorongan terbesar itu seringnya dorongan kondisi. Semakin kondisi kita masih memungkinkan kita untuk survive, semakin perubahan itu sulit dilakukan dikepala kita.
Coba ubah environment kalian buat mendukung perubahan yang kalian mau. Misal, kalo kalian susah belajar soalnya ke-distract sama sosmed, ya hapus sosmednya.
๐: Tinggal install lagi
Kalo gitu archive akun nya. Kalo masih juga, delete akun nya. Masih juga? Taruhan sama temen kalian, bilang kalo kamu mau berenti sosmed buat belajar. Kalo maen sosmed, transfer seratus.
Get ga? Intinya sih membuat kondisi dimana kalian memaksa diri sendiri untuk achieve goal kalian.
Change small things
First of all: ga ada yang namanya overnight success. In reality, overnight success itu hasil dari ratusan atau ribuan iterasi perubahan. Dan di semua iterasi itu, ada yang berhasil dan ada yang gagal. Yang kita semua liat soal overnight success itu cuma kaya puncak gunung es aja.
Karena diri kita by default benci sama perubahan, ada satu trik buat start: do something small. Pilih something yang ga segitu pentingnya dan do it anyway.
Contoh ya: berubah buat baca buku 30 menit sebelum tidur, alih-alih dari doomscroll sosmed itu ga mudah. Kalau goal nya terasa besar dan susah, tendensi nya lebih mudah buat ga melakukan itu. Besok aja alesannya. Tapi coba diubah buat baca / tonton satu video di sosmed yang bikin mikir, 5 menit sebelum tidur. Lebih mudah tuh, lebih ringan. Next nya bisa digeser lagi buat baca satu quotes 5 menit sebelum tidur, trus baca satu paragraf buku 10 menit sebelum tidur, etc.
Oh, mau contoh yang terkait ke remote work?
- 10 menit sebelum tidur, tanya AI / browse apa part dari skill kalian yang gabisa di replace sama AI, atau
- 10 menit sebelum tidur, baca satu artikel yang bisa improve skill kalian.
Next: Understanding Yourself
Choose something yang bisa jadi landasan kamu buat adaptasi yang sesuai ke kondisi, dan adapt slowly. Remember kalo changes itu ga happen overnight. Gunung yang besar itu isinya batu kecil yang ditumpuk.
Since kita udah beres ngebahas basic steps ability buat remote work, kita move ke next big topic nya: understanding yourself.
