Easy Way To Be A High Quality Talent

Welcome to the Age of AI, dimana kemampuan untuk memahami dan do something based on context itu jadi hal yang mahal. Why? Karena technical skill itu hal yang rigid dan mudah di replace oleh machine. On the other hand, kemampuan untuk mengerti suatu masalah (dan take action yang sesuai dengan true problem nya) = ๐Ÿค‘๐Ÿค‘๐Ÿค‘

Kalo di artikel sebelumnya kita ngebahas sedikit soal Critical Thinking, sekarang kita bahas lebih dalam satu part paling penting dari critical thinking : nuanced thinking. Ini something yang dimiliki sama high quality talents.

Kalo pake bahasa simplenya, nuanced thinking itu kemampuan buat melihat dan memahami sesuatu dari banyak perspektif, bukan dari cuma dua sisi. Dua sisi disini contohnya : baik atau buruk, berhasil atau gagal, menang atau kalah.

Kenapa nuanced thinking ini skill penting?

Di dunia professional freelance, skill ini itu skill yang perlu banget karena ini yang membedakan antara operator sama talents. Operator itu someone yang diberi instruksi dan menjalankan instruksi itu tanpa mikir sama sekali. Talents itu someone yang diberi masalah dan mencari solusi yang tepat dari masalah itu.

Masalahnya, banyak orang di Indonesia di design dari kecil untuk patuh. Nurut gitu loh. Mau itu benar atau salah, ya nurut. Metode berpikir ini tuh adanya di struktur top-down (atasan ngasi perintah, harus dilakuin) dan shift responsibility nya ke si atasan tersebut. Jadi dalam kata lain, atasan nya yang punya otak, dan dia punya banyak tangan untuk melakukan apapun yang atasannya mau. Kalo dilihat dari sisi tanggung jawab, jelas operator ini tanggung jawabnya lebih kecil. Kalo ternyata solusinya salah, salahin bos nya wkwk.

Di dunia professional remote internasional ga gitu. I mean, memang operator itu tetap diperlukan, cuma ya kalo cuma instruksi udah pasti dibayar murah banget. Apalagi sekarang udah ada AI, bisa otomatisasi banyak hal, dan semua orang perang harga (dan bukannya naikin kualitas personal). Nanti kita bahas soal ini ya di artikel yang lain.

Jadi alasan pertama kenapa nuanced thinking skill ini penting = dibayar lebih mahal.

Quality over quantity

Alasan kedua nya: kemampuan berpikir kritis + nuanced thinking ini lebih condong ke kualitas, bukan kuantitas. Dan kuantitas yang dimaksud ini waktu. Ini nyambungnya ke kultur lagi nih, yok kita bahas dikit.

Di Indonesia, kita terbiasa untuk mencari keamanan diatas segalanya. Kerja jadi PNS aja soalnya aman. Masuk BUMN aja soalnya aman. Nikah aja soalnya hidup ditanggung dan aman (katanya).

Aman disini itu ada bentuknya: kerja masuk jam 9, pulang jam 5. Kalaupun males, minimal absen dulu jam 9 trus sebat, baru kerja jam 10-11 (soalnya jam 11 udah persiapan mau lunch). Gitu terus tuh sampe jam kerja abis. Jadi penekanannya itu ada di kehadiran, bukan di kualitas kerjanya sendiri. Dan ya ini sayangnya jadi hal yang lumrah. Hal ini struktural btw, bukan something yang bisa dengan mudah digeser.

Balik ke remote, global freelance market: yang company luar perluin itu efisiensi. Dan ini artinya ya kualitas, bukan kuantitas jam kerja.

Kalau problem bisa diselesaikan dengan efisien, cepat, dan smart, why harus dilama-lamain? Jadi kultur kerja nya kebalik.

Kita pakai contoh yang praktis ya. Misal nih, client kita bilang gini:

“It would be great if we could eventually implement AI customer service”

Respon operator: antara dua, bengong atau nanya mau nya gimana. Bengong karena ya memang ga ada instruksi yang detail harus ngelakuin apa. Nanya mau gimana karena selain ga ada instruksi, coba minta instruksi.

Respon talent high quality: antara dua, diem atau nanya lebih dalam. Diem tapi bukan karena ga ada instruksi, tapi karena mikir how bisa get ke goal client nya. Nanya lebih dalam karena ingin tau lebih spesifik level kualitas goal nya yang client mau.

See ga bedanya? Operator itu pasif, high quality talent itu aktif. Dan bukan cuma aktif karena inisatif aja nih, tapi juga karena memang level curiosity nya tinggi dan kombinasi itu membuat high quality talents jauh lebih berharga di mata client karena:

  1. Ga nambah beban pikiran client
  2. Client ga perlu tutor in details

Remote work itu beda sama offline work dimana kita bisa baca raut muka, bisa liat gesture, bisa tau client / atasan kita lagi mood nya gimana. Remote work perlu level comprehension lebih tinggi dari offline work.

Next kita lihat apa breakdown dari high quality talents dibandingin sama operator, dan apa yang diperlukan buat operator shift jadi high quality talents.

High Quality Talents vs Operator

High quality talent itu punya inisatif dan otomatis belajar jadi lebih baik tanpa disuruh, sedangkan operator itu harus disuruh, dimandorin (kalo ga, ga kerja betul atau worse…ga kerja sama sekali). Let’s dive deep soal dua posisi ini.

Operator

First, operator ini bukan sesuatu yang buruk loh ya. Di struktur yang udah teruji, operator ini penting banget. Struktur yang udah teruji ini misalnya di korporat atau perusahaan multinasional yang udah besar.

Why? Karena strukturnya sudah jadi. Flow kerja, benefit, pressure, semuanya udah clear banget dan cuma ada sedikit ruang buat improvement. Di struktur gini, bukan improvement yang penting tapi ketepatan dan konsistensi.

Secara konkrit, ini artinya: kerja melakukan sesuatu yang berulang, dan tidak mempunyai banyak improvement dalam waktu yang pendek.

Operator itu melakukan tugas tanpa banyak berpikir, yang penting dilakukan sesuai instruksi aja. Nah problem sama mode operator ini ada 3:

  1. Banyak banget orang yang bisa kerja sebagai operator. Toh kerjanya melakukan hal yang sama tanpa perlu berpikir. Ini membuat operator itu jadi banyak saingan (operator lain) dan sering banget jadinya perang harga.
  2. Otomatisasi. Ini problem terbesar yang dihadapi operator. Hal yang berulang bisa diotomatisasi bahkan sebelum AI. Sekarang AI dimana-mana ya lebih mudah lagi buat most business replace operator.
  3. Posisi operator itu penting di korporat / bisnis yang teruji. Masalahnya, ga banyak korporat yang buka remote job.

Quick check:

  • Kalo ga ada yang suruh kamu belajar, atau ga ada direct benefit buat kamu saat ini, kamu tetep belajar ga?
  • Kamu pilih kenyamanan atau growth? Be honest sama diri kamu ya at least.

High Quality Talent

Beda sama operator, high quality talent itu someone yang bisa membawa improvement tanpa harus diberi instruksi yang detail. Cukup diberi problem yang clear, dia bisa mencari solusi yang paling optimal sesuai dengan keadaan.

Gini deh, kita put aside soal remote work. Kamu mau nya kerja bareng orang yang manut-manut dan ga mikir, ga kritis, ga inisiatif, atau mau kerja sama orang yang sebaliknya? High quality talent itu bukan cuma membantu company dimana dia bekerja, tapi juga membantu teman kerja juga. Biasanya high quality talent itu someone yang suka dicurhatin tuh trus diminta saran nya di kerjaan, regardless posisinya.

Dan dalam hal talent ini scope kerja nya berulang, dia ga mindless. Dia berpikir cara untuk membuat output role nya jadi lebih baik.

Meski kelihatan lebih capek, tapi being a high quality talent itu punya beberapa keuntungan:

  1. Disayang bos / client. Jelas kalo ini, krn dia bisa berpikir tanpa perlu banyak instruksi, artinya irit tenaga dan effort (buat bos / client).
  2. Jadi someone yang membantu membentuk struktur company. Ini artinya dia ga mudah digantikan otomatisasi, karena kelebihan utama dia = kemampuan berpikir.
  3. Rate nya jauh diatas operator. Iyalah jelas, namanya juga high quality.

Jadi, udah clear belum kalau orang yang mau berpikir dan terus mengasah diri itu high quality yang dibayar lebih mahal? Ini why nuanced thinking itu penting, karena itu inti dari mindset yang diperlukan buat jadi high quality talent.

Cara Jadi High Quality Talents

Btw, kamu skim dan scroll doang buat baca ini karena kamu mau langsung step nya tanpa mengerti why nya, atau kamu beneran baca ini semua? Ga sih ya, kamu ga akan skip skip soalnya kamu tau sustained focus itu penting buat remote work yang dibayar mahal pake dollar.

Sebelum kita masuk ke how nya, ada satu hal lagi nih kenapa nuanced thinking itu bukan hal yang mudah (dan perlu dilatih over time): otak kita itu by default condong ke mode yang paling mengirit energi. Penjelasan ini panjang sebetulnya, tapi for the sake of summary ini ada kaitannya dengan survival kita. Less energy = lebih lama hidup.

Dengan kita berpikir di dua ekstrim (baik atau buruk, bagus atau jelek), otak kita lebih save energy. Jadi istilahnya: mikir yang mudah, simply karena itu pake less energy.

Right, sekarang kita move ke apa yang diperlukan buat jadi high quality talents.


Grey Thinking

Grey thinking itu cara pandang bahwa semua hal itu selalu ada baik dan buruknya, cuma berbeda aja porsi dan persentasenya. In most of the case, ini membantu kita jadi berpikir lebih tajam.

Kita coba contoh yang relate: Client minta bantuan kamu untuk replace semua orang pake AI!

Kalo diliat sekilas, ini ga bagus karena ini bakal membuat orang gapunya kerja. Tapi, coba kita lihat dari sisi sebaliknya. Sisi dimana kamu yang punya bisnis ๐Ÿ˜‰

Jika kamu yang punya bisnis, ada chance kamu juga mau hal yang sama karena toh bisnis itu masalah expense (pengeluaran) dan pemasukan. Jadi di case example ini, ada good nya buat client kamu, dan ada bad nya buat orang yang bekerja di dalamnya. Nah dengan informasi ini kamu bisa mulai mendalami lagi seberapa besar impact nya, dan dimana posisi dimana kedua belah keuntungan dan kerugian ini masih bisa tertoleransi.

Oh, grey thinking ini kadang disalah artikan sebagai pesimis atau apatis. Beda nya tipis sih. Grey thinking ini lebih kearah kritis, bukan pesimis atau apatis.

Contoh yang lebih ngena lagi? AI mampu untuk take over banyak banget job sekarang. How do you feel about that?

Kalau tanpa mikir, jawaban mudah nya dua: bagus buat orang yang bisnis, jelek buat kita semua yang kerja. Tapi kalau dipikir via grey thinking, artinya ada opportunity buat kita augment diri kita / skill kita dengan AI.

Quick self test buat latihan grey thinking:

  • Ekonomi sekarang itu baik / buruk?
  • Jadi PNS itu menurut kamu bagus / ga?
  • Kalo kamu ga terikat siapapun, dan ga ada ekspektasi dari siapapun, itu gift / curse?

Depends, depends, depends

Selain grey thinking, ada lagi nih satu hal: kemampuan berpikir tergantung dengan informasi yang kita punya, dan kemampuan mengoreksi diri sendiri ketika informasinya berubah juga.

Kita pakai contoh ya: let’s say posisi kamu penting di suatu company, dan kamu punya responsibility akan banyak orang. Trus suatu hari someone yang kamu care sakit dan perlu kamu. Kamu tetap kerja, atau kamu prioritaskan someone itu?

Jawabannya tentu ga semudah pilih antara keduanya. Nah ini yang dimaksud berpikir tergantung dengan informasi yang ada. Misal:

  • Sakit nya apa? Kritis kah? Penting kah?
  • Apa impact kamu ga kerja? Apa impact kamu ga dateng ke someone itu?
  • Timing nya gimana? Kamu lagi banyak kerja kah atau lagi off-peak?
  • Apa hal lain yang penting buat kamu tau, supaya kamu bisa take decision?

Contoh diatas itu salah satu problem yang mungkin muncul, dari puluhan problem yang bisa muncul dalam satu rentang waktu. Kemampuan berpikir ini sering disebut kemampuan prioritizing atau kemampuan untuk menyusun prioritas.

Untuk membuat prioritas (dan take decision), kita perlu tau dulu apa variable/hal-hal penting terkait problem nya, dan jika hal penting nya berubah maka kita perlu bisa mengoreksi diri sendiri juga. Kita bahas di next article ya!

Know Your Ikigai

Last thing: superman itu hoax. Ga ada orang yang sempurna dan kita semua bias. That’s why penting banget untuk tau diri kita sendiri: apa yang kita jago, passion kita, apa yang drain kita. Semua bakal dibahas di artikel khusus soal finding your ikigai.

Yang pasti, ini penting karena kita bisa jadi better fit-in diri kita ke environment / kerja yang sesuai dengan diri kita.

Common Pitfall

High quality talents > operator

No no ya, no no. As we said before, operator itu tetap penting loh dan ga semua hal bisa di replace AI atau di otomatisasi. Contoh paling utama itu: CS halo bca prioritas. Reason nya karena yang dijual itu skill connection nya, kemampuan CS prioritas komunikasi yang well banget.

That being said, most operator itu memang sedang banyak di replace, tapi itu bukan berarti operator lebih rendah dari high quality talent. After all, kita semua memerlukan each other.

Nuanced thinking = overthinking

Beda, meski kadang beda nya tipis. Overthinking itu core nya cemas. Overthinker mencari terus informasi baru karena takut gagal / perfeksionis, yang ujungnya ga bergerak atau take action. Sedangkan nuanced thinker itu menggunakan informasi yang ada untuk memperkecil resiko, tapi tetap mengambil langkah konkrit (dan adjust langkah nya kalau ada informasi baru)


Summary

First: pat yourself, kamu udah baca artikel panjang ini dan itu contribute ke upskill kamu. Itu prove kamu punya sustained focus, dan itu akan pay off in the long term nya. Kamu will be a darn high quality talent ๐Ÿ™‚

Okay so, high quality talents itu someone yang bisa think, dan I mean beneran think yang deep tanpa terperangkap jadi overthinker. Quality talent itu punya inisiatif, bisa berkembang tanpa insentif yang instant, dan ga langsung mengkotak-kotakan apapun di dua sisi. Berani capek dan ga malas untuk berpikir lebih dalam, supaya menghasilkan output yang lebih berkualitas terutama untuk jangka panjang. Super clear kalau quality talent itu dibayar lebih mahal, ya ga?

Next kita bahas soal self correction ability. Bikin kopi/teh dulu, siapin snack, and hit the next article button below.