Sustained Focus in the Age of Short Attention Span

Welcome to the world of short attention span

Kemampuan konsentrasi dalam jangka waktu lama mungkin hal yang tersulit sekarang2 ini. Why? Karena kita udah kebiasa sama short-form content. Instagram, TikTok, YouTube, Facebook, semua promoting short-form content. Why memangnya sama short-form content? Istilahnya, itu semua snack. Tapi kita gabisa beneran kenyang (dan sehat) makan snack kan?

Karena terbiasa sama konten yang mini dan pendek2, jadinya susah kita untuk digest konten yang panjang.

Sustained focus (konsentrasi jangka waktu lama) itu diperluin dalam hal apapun, kalo kita mau nambah expertise di area itu. And I’m not even talking about technical skills aja. Relationship perlu sustained focus pas ngobrol / diskusi. Masak perlu sustained focus. Naik motor/mobil perlu sustained focus. Kalau kita mudah terdistraksi, maka susah juga buat bisa belajar dan get something substantial dari situ.

Contoh: Let’s say kamu mau belajar cara masak. Gausa yang rumit, masak telor ceplok setengah mateng aja. Kalau kita ga fokus trus memperhatikan api dan kematangannya, ga jadi telur setengah matang. Jadinya mateng sempurna.

Contoh lain: Let’s say kamu mau belajar gimana cara komunikasi yang baik. First, kamu perlu punya ability buat listen. Listen buat understand, bukan buat reply. Hear dan listen itu berbeda. Hear cuma dengar, tapi listen itu mengerti apa yang didengar. Dan guess buat bisa even listening perlu apa? Perlu sustained focus.

And then setelah sustained focus, ada proses menelaah / analisa, proses berpikir kritis, mengoreksi mindset kita berdasar data yang baru, and so on.

Sustained focus itu sama kaya kemampuan menyelam, berapa lama kita bisa tahan menyelam ketika kita diving. Semakin lama kita bisa bertahan, semakin banyak yang bisa kita proses dan eventually semakin cepat kita bisa belajar.

Focus itu ibarat baterai. Setiap orang punya kapasitas baterai berbeda, dan setiap orang drain baterai mereka dengan cara dan speed yang berbeda. Sebelum kita bisa meningkatkan kapasitas baterai kita, kita perlu tau dulu exactly tipe baterai kita.

Ini terkait nya ke extroverted (charge energy by external people) / introverted (charge energy by isolation), plus terkait juga ke tipe kita belajar (visual, auditory, kinesthetic).

Kamu itu extroverted atau introverted?

Extroverted means kamu recharge dengan ada di social settings yang hidup dan alive, dan kamu drained kalau kamu sendirian atau di social settings yang terlalu predictable dan tenang. Sebaliknya, introverted itu recharge energy di environment yang tenang dan terprediksi, dan drained di social settings yang lebih hidup dan tidak dilihat tenang.

Learning style kamu itu visual, auditory, atau kinesthetic?

Ini soal cara kamu best nya belajar, yang paling kamu enjoy. Visual means kamu suka belajar dengan grafis, text, diagram. Auditory means kamu best belajar dari mendengar (diskusi, podcast, radio, atau even kuliah). Kinesthetic means kamu perlu experience langsung (hands-on), mostly physically juga.

Put some effort juga ketika mencoba discover ini ya. I mean, put some time buat truly think dua hal diatas. Misal: kamu tuh introverted yang gimana? suka nya full isolation kah? atau suka diam sambil denger musik? Trus learning style kamu tuh visual yang text nya gimana? Apakah km bs understand better pakai perumpamaan atau sebaliknya best ketika langsung dijelaskan secara praktis?

Once kita sudah understand tipe baterai energy kita, baru kita bisa masuk next step of increasing our battery capacity.

Increase your capacity (slowly)

Best way buat increase kapasitas konsentrasi kamu ya dengan menghilangkan distraksi yang ada. Delete sosmed (kalo gabisa menahan diri buat ga doomscroll). Silent hp atau even flight mode. Switch short-content (reels, tiktok, youtube shorts) sama satu konten panjang yang kamu mau pelajari, dan ga konsumsi konten lainnya buat beberapa waktu lama.

Maksudnya gimana? ini:

  • Choose satu hal yang kamu mau pelajari, misalnya cara presentasi yang baik
  • Choose satu konten / buku / artikel yang lumayan detail
  • Eliminate semua distraction: flight mode / full silent hp, trus simpen hp nya dibawah bantal. Kalo belajar pake hp, then eliminate semua distraction lainnya (tv, etc). Yang penting tuh environment kita tenang supaya kita bisa fokus.
  • Baca konten/buku/artikel itu tanpa melakukan hal lainnya sampai beres.
  • Beres baca, coba summary ulang (di kertas), baca ulang summary nya.
  • Beres summary, jangan melakukan hal lainnya.

Kenapa jangan melakukan hal lainnya? Karena otak kita perlu process dulu informasinya. Kalau langsung ditimpa sama informasi / konten lain, ya…hilang.

Proses ini sama kaya kita makan. Coba ditengah makan nasi padang trus kamu minum susu, puding, sama avocado toast. Dijamin rasanya mixed up (atau diare).

Makan perlahan, one at a time, dan kasi jeda. Belajar juga sama: belajar sedikit2, one at a time, dan kasi jeda. Proses ini slowly increasing capacity kamu buat fokus.

Gabisa kita detox aja gitu buat reset capacity fokus kita?

Ga semudah itu Bambang. Sama kaya gym: proses membentuk otot itu susah, lama, penuh kesabaran dan disiplin repetisi hal yang sama.

Tapi proses hilangin otot itu mudah banget. Ga ada yang namanya instant detox instant success, instant smart. Kalau ada ya semua orang bakal punya fokus, semua orang pintar, kaya, dan Indonesia emas.

Perlu kapasitas fokus segimana?

Let’s talk about metric, karena apapun yang gabisa diukur itu fana (tsahh). Seminimalnya, kalian perlu bisa duduk fokus dan mengerjakan satu hal selama 40 menit tanpa jeda.

Kenapa 40? Karena itu waktu yang cukup untuk melakukan satu task, dan ada di range antara deep work dan grunt work (no worries, nanti dibahas apa bedanya deep work vs grunt work).

Ability ini nanti terkait ke next step nya (berpikir kritis) dimana proses solve problem / belajar / create something itu best nya dipecah jadi banyak chunk kecil. Analoginya: makan dada ayam itu best nya dipecah jadi chunk kecil2 supaya mudah dikunyahnya. Kalau dimakan langsung ya…muntah.

Sustained focus hack: Pomodoro technique

Salah satu cara untuk increase sustained focus kalian itu dengan implement Pomodoro technique. In summary, Pomodoro technique itu cara untuk meningkatkan fokus dengan memecah waktu fokus dan waktu istirahat. Gini contohnya:

  1. Set waktu untuk fokus (standardnya 25 menit)
  2. Fokus untuk do one task well hingga 25 menit nya beres
  3. Rest 5 menit
  4. Repeat

Gimana kalau task / hal yang dipelajari lebih dari 25 menit? Break down task nya, atau increase time buat fokus nya kalau kalian mampu fokus lebih dari itu.

Waktu rest, best nya dipakai untuk liat tanaman, atau something yang bukan layar komputer / hp / elektronik apapun karena brain kita perlu rest dulu. And no, scroll tiktok atau reels meski cuma semenit itu bukan rest.

To do: Benchmark yourself

Baca (atau even understand) soal how much kamu bisa fokus, teori dibelakangnya etc itu beda sama praktiknya, jadi I invite you to try.

  1. Coba test dan catat kemampuan maksimal fokus kamu berapa lama
  2. coba Pomodoro technique ini selama 2 minggu dan see fokus km increase atau ga?

Remember, building capacity itu bukan hal yang instant dan it’s okay kalau belum bisa increase focus yang panjang setelah 2 minggu dicoba. Yang penting itu repeat dilakukannya karena average habit formation itu ~60 days.


Okay, assuming kita udah punya capability (dan capacity) buat sustained focus, let’s talk soal next step nya: Critical thinking